Kamis, 23 April 2015

Materi I

Langkah Awal Menjadi Penulis

Apa saja langkah awal itu?

1. Tetapkan Tujuan

Tujuan harus jelas, sejelas bulan di malam hari. Jangan asal menulis, tanpa arah yang pasti. Karena dengan tujuan yang jelas, maka insya Alloh isi tulisan kita lebih terarah, enak dibaca, dan penuh makna.
Tujuan itu sendiri ada 2:-Jangka pendek, seperti menulis karena ingin dapat uang, ingin memenangi lomba, dll.-Jangka panjang, seperti ingin berdakwah, berbagi, atau misalnya memberi inspirasi.
Dan sebaik-baik tujuan adalah tujuan jangka panjang, dan sebaik-baik dari tujuan jangka panjang adalah yang dirinci dengan detail. Misalkan: "Saya mau menulis untuk berdakwah, kepada manusia yang sering melakukan perkara yang dilarang oleh Alloh, khususnya tentang pacaran. Karena mereka salah mengartikan tentang cinta."
Semakin detail, semakin bagus, maka mulai detik ini, pasanglah tujuan jangka panjang yang detail. Ingatlah dalam hati dan catatlah dalam buku harian.
Mengapa perlu dicatatat? Karena inilah obat jika suatu ketika kita malas menulis, lagi futur misalnya. Maka jika melihat kembali tujuan kita menulis, apalagi punya 10 lebih tujuan yang mulia, maka hal ini akan kembali membangkitkan semangat menulis. Allohu akbar!

2. Minta Pertolongan kepada Alloh azza wa jalla

Mengapa? Karena kita lemah. Karya kita sesungguhnya tidak ada apa-apanya jika tak meminta bantuan-Nya. Maka berdoalah kepada Alloh, agar tulisan kita bisa bermanfaat. Baik setelah sholat sunnah di antara adzan dan iqomah, atau waktu mustajab lainnyan.
Ucapkanlah "bismillah" saat awal menulis. Karena seorang muslim itu cirinya mendahulukan segala perkara kebaikan dengan "bismillah".
Seorang muslim itu aktivitasnya penuh ibadah, menulispun ia membaca  "bismillah".

3. Hilangkan Persepsi Menulis adalah Bakat

Siapa bilang menulis itu bakat? Banyak sekali penulis yang asal dirinya bukan penulis. Ada yang guru bisa jadi penulis. Karyawan bisa jadi penulis, dst.
Menulis itu kebiasaan saja. Habits. Kalau tidak dibiasakan dan diistiqomahkan, tentu tak jadi penulis. Intinya kebiasaan saja. Semakin sering menulis, insya Alloh semakin jelas bahwa kita telah menjadi penulis.

4. Cintai Pena dan Komputer

Zaman dulu orang menulis pakai pena, maka penulis dahulu mencintai pena. Zaman sekarang menulis pakai keyboard sepaket dengan komputer, maka penulis sekarang komputer.
Cinta di sini adalah menyenangi. Jadi, penulis itu sangat sayang dengan profesinya, alat tulisnya, medianya.
Maka belajarlah mencintai budaya menulis ini. Jangan malah membencinya, menakutinya, dan malas menulis. Ingat tujuan-tujuan menulis, hal ini akan mendatangkan cinta dunia tulisan.
Jika suami istri disatukan dalam cinta Ilahi, maka penulis pun disatukan dalam cinta pada dunia tulisan.
Jika cinta sudah ada, dimanapun, media apapun, kapanpun, pasti tetap menulis. Karena apa? Cinta.

5. Jangan Malu

Sebagian orang tidak mau menulis karena malu tulisannya nanti tidak dibaca, atau dijelekkan. Pemikiran seperti ini hendaknya dijauhi.
Karena yang namaya memperluas kebaikan jangan malu. Kecuali tulisan kita bermuatan "dosa", maka silahkan malu.
Olehnya itu, putus 'urat malu', kemudian maju.

6. Menulis = Bicara

Maksudnya? Artinya sama saja. Bedanya menulis itu tanpa suara. Sehingga, ketika kita menulis, bayangkanlah kita sedang berbicara dengan manusia. Memberikan inspirasi dan menyemangati.
Hilangkan beban, kita bicara seluas-luasnya, seperti air mengalir, seolah-olah tak pakai teori menulis.
Bayangkan saat menulis di komputer, kita sedang tidak berhadapan dengan monitor, tapi kita seolah-olah di depan manusia. Memberikan inspirasi.
Olehnya itu, jika ada yang bertanya, "Gimana cara menulis dengan mudah?" Jawabannya "Menulis, menulis, dan menulis."

 7. Pasang Waktu

Mungkin ada yang bertanya, "Kok saya kadang semangat menulis dan kadang tidak semangat menulis?" Saya jawab, "Yah karena Anda menulis bukan pada waktunya. Anda tidak punya jadwal menulis tersendiri."
Kalau pergi sekolah saja pakai jam wajib masuk, maka menulis pun punya jam wajib mulai, misalkan setelah sholat dzuhur wajib menulis 2 paragraf minimal, atau usai sholat subuh wajib menulis 1 artikel.
Bahasa sederhananya: "paksakan diri" untuk menulis konsisten saat jam masuk telah datang. Setelah itu istiqomah. Maka insya Alloh, jika perilaku ini bisa bertahan selama sebulan, maka tanpa disadari kita sudah menjadi penulis yang bermental kuat dan bisa menghasilkan 1 buku. Allohu akbar.
Selain itu, untuk merutinkan kebiasaan menulis, hendaknya memiliki  "waktu sunnah". Dalam artian, waktu ini ketika lagi kosong kegiatan. Tidak ada kerjaan. Maka, silahkan buat tulisan ringkas, boleh buat status bermanfaat di FB/WA/Blog/dll, notes ringan penuh makna, sebagai langkah untuk merutinkan budaya menulis. Jangan sampai ada waktu kita terbuang sia-sia.

8. Tangkap Idenya dan Buat Judulnya

Apa bedanya ide dan judul? Praktisnya ide itu niat, judul adalah amalannya.
Contohnya, jika seseorang melihat fenomena kesyirikan bertebaran di kampungnya dan ia mau mengubahnya dalan bentuk tulisan, maka inilah ide. Tertanam dalam kepala dan hati.
Setelah itu dia menulis judul tulisannya, "Teguran Untuk Kampung Halamanku".
Sudah jelas?
Nah, ide bisa datang kapan saja: di rumah, di kampus, tempat kerja, dll, maka siapkan buku catatan kecil, atau notes HP sebagai "jaring ide". Agar tak lepas begitu saja.
Insya Alloh pembahasan ide lebih luas akan datang di kesempatan berikutnya.
Dan juga untuk membuat judul menarik, bisa mengundang pembaca lebih banyak,  akan datang caranya, insya Alloh.

9. Belajarlah Mencintai Buku

Membaca + Menulis = Karya Berbobot
Hal ini sama dengan: suami dan istri akan menghasilakan keturunan.
Maka, mulailah menyenangi bacaan. Sering-seringlah membaca buku. Karena dengan membaca buku, akan mendatangkan banyak menfaat dalam penulisan, seperti: bertambah wawasan, bertambah kosa kata, dan masih banyak yang lain.
Olehnya itu, ciri penulis yang baik adalah menjadi pembaca yang baik pula.
Kasihan kan jika membaca dan menulis tidak menikah?! Tidak bisa punya keturunan.

10. Miliki Sahabat yang Suka Menulis

Selektif itu penting. Kalau kita menemani teman yang malas, kita akan malas juga.
Karena itulah, bersahabat dengan penulis atau karya-karya penulis, akan membuat diri lebih kuat, istiqomah dalam menjaga kebiasaan menulis.
Minimal kita berteman dengan mereka di dunia maya, kalau tidak bisa di dunia nyata.

11. Punya Media

Dimana tempat kita menyalurkan karya tulisan? Banyak. Bisa di buku harian, blog, website, FB, dll.
Yang jelas ada. Dan yang pasti berani dibaca orang. Kalau di buku catatan, rasaya kurang sreg, apalagi hanya notes yang tersimpan di draft. Beranikanlah untuk dibaca. Jangan takut dikritik.
Jangan jadikan kritikan sebagai beban yang dipikul. Tapi jadikanlah kritikan sebagai batu pondasi untuk membangun istana karya tulis. Masya Alloh.

12. Ingat Kisah para Ulama


Kadang kita didatangi kemalasan dalam menulis, maka solusinya? Ingatlah kisah-kisah para ulama yang semangat dalam berkarya untuk kebaikan.
Bahkan saat-saat susah pun mereka berkarya. Malam yang pekat, di tengah kesibukan, mereka tetap membuahkan investasi kebaikan.
Maka, di saat kita sedang dirundung kemalasan menulis. Ingatkah kisah-kisah mereka, berkarya dalam segala kondisi.

***
Semoga beberapa point di atas bisa memberikan inspirasi agar lekas menulis.

Tidak ada komentar: