Kamis, 23 April 2015

Materi II

Bahasa Indonesia Untuk Penulisan

Sebagai penulis, kita harus paham soal bahasa. Karena mempelajari bahasa, tulisan kita akan  terlihat rapi, sejuk, dan terlihat mantap.

Namun, sebelum kita lihat apa-apa saja pembelajarannya. Perlu kita pahami bahwa saat mulai menulis, jangan "terlalu" sibuk mengoreksi bahasa. Jalan saja dulu, nanti naskah kita sampai diujung, nah baru diedit, ditata ulang jika ada yang salah.

Sebab, sebagian orang kadang lama menulis, bahkan buntu di tengah jalan, kenapa? Karena sibuk memperbaiki bahasa, padahal seorang penulis itu "menumpahkan" segala pikirannya dulu. Nanti belakangan koreksinya.

Nah, untuk itu, dalam sesi ini, kita sejenak melihat, dan memahami beberapa bahasa untuk penulisan. Sekali lagi, kalau sudah mulai menulis, jangan terlalu sibuk pada point-point ini.

1. Pentingnya Tanda Koma (,)

Kapan digunakan tanda koma? Kalau kita melihat buku pedoman EYD. Tanda koma banyak penempatannya.

Tapi, kali ini kita tidak berkutat pada yang banyak itu. Kita hanya fokuskan yang sering digunakan saat menulis.

a. Tanda koma dipakai merinci atau membilang.

Contoh: Saya menjual quran, herbal, dan pakaian.

[Catatan: dengan koma sebelum "dan"]

b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti , tetapi, dan melainkan .

Contoh: Saya bergabung dengan group WA, tetapi tidak aktif lagi.

c. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat.

Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula , meskipun begitu, akan tetapi.

Contoh:
Oleh karena itu, kamu harus ikut "Pelatihan Menulis Artikel".

d. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.

Contoh:
Kalau hari Jum'at, saya akan Puasa Arafah.

Na'am. Nah, itulah 4 penempatan koma yang paling sering digunakan. Namun, ada cara paling gampang dalam menaruh tanda koma.

Apa itu?

Pola nafas. Kapan kita membaca, kemudian kita mengambil jeda sedikit (nafas kita seolah-olah berhenti sejenak mengambil jeda), maka di situlah ada tanda koma (,).

Misalkan: Jika saya berhasil menulis artikel (berhenti sejenak), maka saya insya Alloh bisa memperbaiki orang-orang dengan aktivitas ini.


2. Tanda Titik (.)

Sederhanya apabila ia bukan bentuk pertanyaan atau seruan, maka ia pasti memakai titik.

Contoh: Saya suka baca buku.

Sedikit informasi, ingat, setiap menuliskan tanda titik, maka ada spasi 1 kali.

Penulisan yang salah: Saya suka menulis buku.Adapun....

Perhatikan antara tanda titik dan huruf (A) pada kata "adapun", di sana tidak ada spasi. Ini salah.

Penulisan yang benar: Saya suka menulis buku. Adapun ....


3. Tanda Titik Dua (:)

Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau perincian.

Contoh:
Untuk menulis, kita memerlukan: pena, kertas, dan keistiqomahan.


4. Tanda Elipsis (...)

Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus, misalnya untuk mengambil jeda yang lama dalam membaca.

Contoh: Masya Alloh ... ini adalah teguran buat kita semua.

Biasanya orang yang membaca kalimat seperti di atas, akan lebih mengambil hikmah. Karena adanya jeda yang lama.


5. Tanda Petik ("...")

Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Contoh:

"Saya belum siap menikah, Usatdz," kata Abdullah, "tunggu persetujuan orangtuaku dulu!"

Alloh azza wa jalla berfriman, "Wahai orang-orang beriman ...."

Setelah tanda petik, langsung menggunakan huruf kapital (besar).

Larangan keras, jangan sampai pada ujung kalimat langsung terdapat 2 tanda baca.

Penulisan yang salah: "Apa kabar?".
Penulisan yang benar: "Apa kabar?"

Jika sudah menggunakan tanda tanya, maka itu sudah pengganti tanda titik. Jadi, jangan double, yah.


6. Tulisan Dimiringkan

Kapan tulisan dimiringkan? Paling sederhananya adalah ketika kata itu tidak ada di dalam kamus Bahasa Indonesia (KBBI). Seperti Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Daerah, Bahasa Gaul/Slang, dll, semua ini dimiringkan.

Seperti kata dalam dalam Bahasa Inggris: 'book', 'home', dll.

Dalam Bahasa Daerah Makassar: 'antekamma', dll.

Dalam Bahasa Gaul/Slang: 'kepo', 'agan', dll.


7. Partikel

Ada beberapa partikel yang sering muncul dalam penulisan.

a. Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Contoh: Apakah dia sepakat dengan saya?

b.  Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Contoh: Sahabat saya pun pergi.

Kecuali, 'pun' yang telah melengket selamanya, seperti:
- adapun
- andaipun
- akanpun
- ataupun
- bagaimanapun
- biarpun
- nianpun
- kalaupun
- kendatipun
- maupun
- meskipun
- namunpun
- sekalipun
- sungguhpun
- walaupun.


8. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya

Kata ganti -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Contoh:
-Qur'anmu sangat bagus.
-Kupatahkan ranting pohon di dekat rumah.


9. Tidak Ada Spasi antara Huruf Akhir dengan Tanda Baca (Titik, Koma, Tanda Seru, Tanda Tanya, Tanda Titik Dua, dll)

Penulisan yang salah: Apa kabar ?
Penulisan yang benar: Apa kabar?

Penulisan yang salah: Tidak boleh berbuat syirik .
Penulisan yang benar: Tidak boleh berbuat syirik.

Penulisan yang salah --> Di dalam tas saya terdapat : buku ,pena ,dan penghapus.
Penulisan yang benar -->  Di dalam tas saya terdapat: buku, pena, dan penghapus.

***

Alhamdulillah, inilah 9 point yang kerapkali diperlukan dan dipahami saat menulis. Silahkan diamalkan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, suatu saat insya Alloh teori ini akan menjadi pengindah tulisan kita. Agar mudah dipahami oleh pembaca.

Tidak ada komentar: